Setiap tahun, menjelang Idul Fitri, Indonesia mengalami peristiwa sosial yang sulit ditemukan padanannya di banyak negara lain. Jalan raya dipenuhi kendaraan, terminal dan stasiun sesak oleh manusia, bandara dipadati antrean panjang. Jutaan orang bergerak dalam arah yang sama: pulang. Kita menyebutnya dengan satu kata sederhana, tetapi sarat makna, mudik. Secara ekonomi, mudik sering dilihat sebagai pergerakan manusia terbesar dalam waktu singkat. Namun jika dilihat lebih dalam, mudik bukan sekadar mobilitas penduduk. Ia adalah fenomena kultural dan spiritual yang membentuk salah satu identitas paling khas masyarakat Indonesia. Secara filosofis, mudik adalah perjalanan kembali kepada asal. Kata mudik sendiri diyakini berasal dari istilah Jawa mulih dilik—pulang sebentar. Namun maknanya jauh melampaui arti literal tersebut. Mudik adalah simbol pengingat bahwa sejauh apa pun manusia merantau, ia tidak pernah benar-benar terputus dari akar asalnya. Dalam tradisi masyarakat Nusantara, mera...
Personal Blog of Ali Hapsah