Ada kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Kampus Kakatua, Fakultas Sastra UMI di era tahun sembilan puluhan, aroma kertas diktat yang baru difotokopi, suara mesin tik yang bersaing dengan komputer generasi pertama, (wordstar, lotus) dan diskusi-diskusi panjang tentang Shakespeare, Chairil Anwar, hingga pergolakan politik yang sedang menggeliat di luar tembok kampus. Masa itu terasa jauh, namun relevansinya justru terasa kian mendesak hari ini. Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) UMI Makassar kini berdiri di persimpangan yang menentukan. Di satu sisi, warisan intelektual dan nilai-nilai keislaman yang telah menjadi fondasinya selama puluhan tahun. Di sisi lain, badai disrupsi teknologi digital yang tidak memberi ampun kepada siapa pun yang memilih diam. Pertanyaannya bukan lagi apakah transformasi diperlukan. Pertanyaannya adalah seberapa dalam keberanian kita untuk berubah? Mari kita jujur kepada diri sendiri. Hari ini, sebuah algoritma kecerdasan buatan ma...
Setiap kali bulan Ramadan mendekati ujungnya, umat Islam di Indonesia kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama: kapan kita berpuasa, dan kapan kita berlebaran? Tahun ini, perbedaan itu kembali terjadi. Sebagian memulai puasa lebih awal, sebagian lainnya menyusul sehari kemudian. Ketika Idul Fitri tiba, perbedaan itu kembali menganga, sebagian telah bertakbir, sebagian masih berpuasa. Bagi kalangan terdidik, ini mungkin dipahami sebagai perbedaan metodologi. Namun bagi masyarakat awam, situasi ini sering kali menghadirkan kebingungan, bahkan kegamangan. Lebaran, yang semestinya menjadi simbol persatuan dan kemenangan bersama, justru terasa terbelah dalam praktik. Pertanyaannya: mengapa perbedaan ini terus berulang, dan apakah tidak mungkin kita menemukan jalan untuk menyatukannya? Perbedaan penetapan awal Ramadan dan Idul Fitri pada dasarnya berakar pada dua pendekatan: hisab dan rukyat. Hisab mengandalkan perhitungan astronomi yang presisi, sementara rukyat menekankan observasi lan...