Setiap tahun, menjelang Idul Fitri, Indonesia mengalami peristiwa sosial yang sulit ditemukan padanannya di banyak negara lain. Jalan raya dipenuhi kendaraan, terminal dan stasiun sesak oleh manusia, bandara dipadati antrean panjang. Jutaan orang bergerak dalam arah yang sama: pulang. Kita menyebutnya dengan satu kata sederhana, tetapi sarat makna, mudik. Secara ekonomi, mudik sering dilihat sebagai pergerakan manusia terbesar dalam waktu singkat. Namun jika dilihat lebih dalam, mudik bukan sekadar mobilitas penduduk. Ia adalah fenomena kultural dan spiritual yang membentuk salah satu identitas paling khas masyarakat Indonesia. Secara filosofis, mudik adalah perjalanan kembali kepada asal. Kata mudik sendiri diyakini berasal dari istilah Jawa mulih dilik—pulang sebentar. Namun maknanya jauh melampaui arti literal tersebut. Mudik adalah simbol pengingat bahwa sejauh apa pun manusia merantau, ia tidak pernah benar-benar terputus dari akar asalnya. Dalam tradisi masyarakat Nusantara, mera...
Pada dini hari 28 Februari 2026, ketika sebagian besar warga Indonesia masih terlelap, rudal dan jet tempur Amerika Serikat bersama Israel menyapu langit Teheran. Operasi yang oleh Presiden Trump disebut sebagai "Epic Fury" itu menandai babak baru yang paling berbahaya dalam konflik Timur Tengah sejak Perang Teluk 1991. Pemimpin tertinggi Iran dilaporkan tewas. Garda Revolusi membalas dengan meluncurkan gelombang rudal ke pangkalan-pangkalan militer Amerika di seluruh kawasan. Dan di Selat Hormuz, jalur sempit selebar 21 mil yang setiap harinya dilintasi hampir seperlima dari total minyak dunia, Iran memperingatkan: tidak ada kapal yang boleh melintas. Bagi sebagian orang, ini adalah berita dari negeri yang jauh. Bagi Indonesia, ini adalah krisis yang sangat dekat. Bukan dalam pengertian militer, tentu saja. Namun dalam bahasa yang lebih mendasar: berpotensi mengerek kenaikan harga bahan pokok, ongkos transportasi, dan potensial membawa dampak kepada pekerja di Indonesia. Tit...