Pada dini hari 28 Februari 2026, ketika sebagian besar warga Indonesia masih terlelap, rudal dan jet tempur Amerika Serikat bersama Israel menyapu langit Teheran. Operasi yang oleh Presiden Trump disebut sebagai "Epic Fury" itu menandai babak baru yang paling berbahaya dalam konflik Timur Tengah sejak Perang Teluk 1991. Pemimpin tertinggi Iran dilaporkan tewas. Garda Revolusi membalas dengan meluncurkan gelombang rudal ke pangkalan-pangkalan militer Amerika di seluruh kawasan. Dan di Selat Hormuz, jalur sempit selebar 21 mil yang setiap harinya dilintasi hampir seperlima dari total minyak dunia, Iran memperingatkan: tidak ada kapal yang boleh melintas. Bagi sebagian orang, ini adalah berita dari negeri yang jauh. Bagi Indonesia, ini adalah krisis yang sangat dekat. Bukan dalam pengertian militer, tentu saja. Namun dalam bahasa yang lebih mendasar: berpotensi mengerek kenaikan harga bahan pokok, ongkos transportasi, dan potensial membawa dampak kepada pekerja di Indonesia. Tit...
Personal Blog of Ali Hapsah