Skip to main content

Kisah Dua Kecambah

Di sebuah hamparan tanah subur, dua kecambah kecil muncul dari dalam tanah. Mereka hidup berdampingan, disinari matahari yang sama, dan disirami hujan yang sama. Namun, keduanya memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang bagaimana mereka ingin tumbuh.
Suatu pagi, Kecambah Pertama memandang sekeliling dengan ragu.
"Aku tidak mau tumbuh terlalu tinggi atau terlalu lebat," bisiknya pada Kecambah Kedua.
"Kalau aku terlalu tinggi, angin bisa menerbangkanku. Dan aku tidak mau akarku panjang-panjang, tanah itu gelap, lembab, dan penuh cacing! Aku tidak suka!"
Kecambah Kedua menggeleng pelan.
"Tapi justru itulah tantangan kita," jawabnya dengan tekad.
"Aku ingin tumbuh setinggi mungkin, melihat dunia yang lebih luas. Dan akarku akan kutanam sedalam-dalamnya agar aku kuat menghadapi badai. Tanah mungkin gelap, tapi di sanalah kita menemukan kekuatan."
Kecambah Pertama hanya menghela napas.
"Terlalu berisiko. Aku lebih baik tetap seperti ini."
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, musimpun berputar. Kecambah Kedua tumbuh dengan gagah. Batangnya menjulang, daunnya lebat, dan akarnya menghunjam jauh ke dalam tanah. Ia memang sering diterpa angin, tapi justru itu membuatnya semakin kokoh. Sementara Kecambah Pertama tetap pendek, akarnya dangkal, dan daunnya sedikit.
Lalu, tibalah musim kemarau panjang. Matahari menyengat, tanah retak-retak, dan udara terasa kering. Kecambah Pertama mulai layu. Akarnya yang pendek tak mampu menjangkau air di kedalaman tanah. Daunnya berguguran satu per satu. "Aku… tidak kuat…" keluhnya sebelum akhirnya tumbang.
Sementara itu, Kecambah Kedua masih berdiri tegak. Akarnya yang dalam masih menemukan air, dan cengkeramannya pada tanah membuatnya tak mudah roboh. Angin kencang menerpa, tapi ia hanya bergoyang, tidak patah. "Memang berat," bisiknya pada diri sendiri, "tapi aku sudah siap."

Makna di Balik Kisah
Kisah dua kecambah ini adalah cerminan kehidupan kita, termasuk dalam dunia kerja. Kecambah Pertama mewakili mereka yang takut mengambil risiko, enggan berkembang, dan hanya ingin berada di zona nyaman. Ia menganggap tantangan sebagai ancaman, bukan peluang. Akibatnya, ketika kesulitan datang, ia tak siap.
Sementara Kecambah Kedua adalah simbol dari mereka yang berani tumbuh "beyond duties", melampaui tanggung jawab minimal. Ia tidak hanya bekerja untuk sekadar bertahan, tapi untuk berkembang, belajar, dan beradaptasi. Ia memahami bahwa akar yang dalam (fondasi keterampilan dan mentalitas) adalah kunci ketahanan.
Dalam konteks Kemnaker sebagai “A Nice Place to Grow”, filosofi ini mengajarkan bahwa pertumbuhan sejati terjadi ketika kita berani:
1. Keluar dari zona nyaman, seperti Kecambah Kedua yang berani menjangkau tanah yang lebih dalam.
2. Belajar dari tantangan, badai dan kemarau justru menguji ketahanan kita.
3. Bekerja beyond duties, tidak hanya melakukan yang diperintahkan, tapi terus mencari cara untuk berkembang.

Epilog
Bertahun-tahun kemudian, di tempat yang sama, Kecambah Kedua telah menjadi pohon yang rindang. Burung-burung bersarang di dahannya, dan petani beristirahat di bawah naungannya. Sementara itu, tak ada yang mengingat Kecambah Pertama, ia telah lama musnah tanpa bekas.
Pelajaran dari kisah ini abadi: Hidup bukan hanya tentang bertahan, tapi tentang bertumbuh. Dan seperti Kemnaker yang ingin menjadi tempat terbaik untuk berkembang, kita pun harus menjadi pribadi yang selalu siap menghadapi badai, menjangkau akar pengetahuan lebih dalam, dan tumbuh melampaui batas yang kita pikir mungkin.
"Kekuatan sejati bukanlah ketika kita tak pernah terjatuh, tapi ketika kita bangkit lebih tinggi setiap kali diterpa angin."

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tak Jadi Santap Siang Bareng Presiden

Meraih emas kategori the best speakers (pembicara terbaik) pada ajang National School Debating Championship (NSDC) di Palu, Sulawesi Tengah pada 10–16 Agustus, bisa mengobati kekecewaan Agung Aulia Hapsah. Pasalnya, pelajar SMA 1 Tanah Grogot, Kabupaten Paser itu, harus merelakan kesempatan emas bertemu Presiden Joko Widodo. Pada saat bersamaan, Agung yang cukup terkenal sebagai salah satu YouTuber tersebut mendapat undangan makan siang bersama Presiden di Istana Negara bersama YouTuber nasional lainnya, seperti Arief Muhammad, Cheryl Raissa, dan Natasha Farani. Ali Hapsah, ayah Agung membenarkan hal itu. Pasalnya, Agung harus terbang ke Palu untuk mewakili Kaltim.  “Agung adalah salah seorang yang diundang Pak Presiden. Tapi tak bisa hadir, karena harus mengikuti lomba debat bahasa Inggris di Palu,” kata Ali Hapsah. Meski demikian, pria ramah itu mengaku bangga karena karya-karya Agung khususnya di bidang sinematografi, mendapat perhatian dari presiden. “Ap...

Agung Hapsah, Vlogger Muda Paser yang Menasional: Bikin Video Lucu, Viewer Sampai Ratusan Ribu

YouTuber, debater, dan filmmaker. Itulah identitas yang terpampang di akun YouTube Muhammad Agung Hapsah. AGUNG Hapsah. Sosok yang sangat familiar bagi pengguna YouTube. Ketik saja namanya di kolom pencarian situs berbagi video itu. Anda akan menemukan barisan video pendek yang semua inspiratif, lucu, menghibur. Lebih lagi, video yang ditayangkan tidak menyudutkan pihak lain. Pada slot bagian atas laman koleksi videonya di YouTube, ada Agung Hapsah dengan foto hitam putih. Berkacamata. Melirik ke kiri atas. Di bawah namanya tertulis 54 video --saat dibuka kemarin (13/6) pagi. Di bagian bawah lagi, video pendek karyanya berderet. Ada #ArapMaklum w/Agung Hapsah, GO-VIDEO 2016_ Lebih dari Transportasi, dan SALAH PRANK. 6 Fakta Unik tentang Agung Hapsah, dan JOMBLO yang melengkapi urutan lima besar deretan videonya. Tak ketinggalan, ada juga video berjudul Tips Cerdas Memanfaatkan YouTube ala Agung Hapsah. Video ya...

Pesapoang dalam Ingatan

Di ketinggian 35.000 kaki, dalam gemuruh mesin Super Air Jet yang membelah langit dari Jakarta menuju Banyuwangi, kenangan masa kecil tiba-tiba menyeruak bagaikan air terjun yang memecah keheningan. Mata memandang hamparan awan putih di bawah, namun hati melayang jauh ke masa silam, ke sebuah dusun kecil yang terbentang di antara gunung dan lembah: Pesapoang. Jejak Sejarah dalam Bayang Waktu Pesapoang, nama yang terucap lembut di lidah seperti senandung angin sore, dulunya adalah salah satu permata tersembunyi dalam mahkota Desa Adolang. Seperti bunga yang mekar bertahap, wilayah ini tumbuh dan berkembang mengikuti irama zaman. Pada masa itu, Desa Adolang bagaikan payung raksasa yang menaungi tujuh dusun: Mongeare, Siiyang, Pesapoang, serta Rawang, Ratte, Timbogading, dan Galung. Waktu terus berputar, dan seperti anak-anak yang tumbuh dewasa lalu memisahkan diri dari rumah induk, Desa Adolang pun beranak-pinak. Lahirlah Desa Adolang yang merangkul Mongeare, Siiyang, Pesapoang Barat, Pe...