Skip to main content

Posts

Showing posts from August 10, 2025

Empat Tipe Pelaku Olahraga: Sebuah Refleksi Fenomena Sosial Kontemporer

Perjalanan menuju hidup sehat memang tidak pernah mudah, tapi juga tidak sesulit yang kita bayangkan. Ketika resolusi tahun baru tentang pola hidup sehat mulai dijalankan dengan komitmen berolahraga setiap hari, jalan kaki 3-5 kilometer atau sekitar 5 putaran Gelora Bung Karno, ternyata hasilnya cukup mengejutkan. Tubuh terasa lebih nyaman, lingkar perut menyusut, berat badan turun, dan teman-teman lama mulai berkomentar tentang perubahan penampilan yang terlihat jelas. Baju-baju yang sempat "pensiun dini" karena terlalu sesak kini bisa dikenakan kembali dengan percaya diri. Yang menarik dari pengalaman ini adalah temuan bahwa mengontrol pola makan ternyata tidak memberikan dampak signifikan terhadap penurunan berat badan. Meski sudah berusaha mengurangi karbohidrat dan membatasi makan berat hanya 1-2 kali sehari, tubuh tetap terasa "melar". Hal ini selaras dengan teori energy balance dalam fisiologi olahraga yang menyatakan bahwa kunci utama manajemen berat badan a...

Membongkar Sandiwara Konsumsi

Resensi Kolom Penta Peturun di Pramoedya.id,  https://pramoedya.id/bpjs-rohana-rojali-opera-sunyi-di-negeri-yang-ramai-tapi-sepi/ Dalam kolom bertajuk "BPJS, Rohana, Rojali: Opera Sunyi di Negeri yang Ramai Tapi Sepi," Penta Peturun, Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan, menghadirkan potret yang menohok tentang paradoks konsumsi di Indonesia kontemporer. Tulisan ini berhasil mengangkat fenomena sosial yang tersembunyi di balik gemerlap pusat perbelanjaan: bagaimana ketimpangan ekonomi menciptakan ritual konsumsi semu yang ia sebut sebagai "patologi sosial yang dibalut kilauan." Kekuatan Naratif dan Analisis Penta membuka tulisannya dengan deskripsi yang sinematij, lantai marmer, cahaya neon, aroma kopi mahal, sebelum mengungkap realitas pahit di baliknya. Pendekatan naratif ini efektif membangun empati pembaca sekaligus menjadi jembatan menuju analisis yang lebih mendalam. Kekuatan utama tulisan ini terletak pada kemampuan penulis menggabungkan data empiris dengan ke...

Pesapoang dalam Ingatan

Di ketinggian 35.000 kaki, dalam gemuruh mesin Super Air Jet yang membelah langit dari Jakarta menuju Banyuwangi, kenangan masa kecil tiba-tiba menyeruak bagaikan air terjun yang memecah keheningan. Mata memandang hamparan awan putih di bawah, namun hati melayang jauh ke masa silam, ke sebuah dusun kecil yang terbentang di antara gunung dan lembah: Pesapoang. Jejak Sejarah dalam Bayang Waktu Pesapoang, nama yang terucap lembut di lidah seperti senandung angin sore, dulunya adalah salah satu permata tersembunyi dalam mahkota Desa Adolang. Seperti bunga yang mekar bertahap, wilayah ini tumbuh dan berkembang mengikuti irama zaman. Pada masa itu, Desa Adolang bagaikan payung raksasa yang menaungi tujuh dusun: Mongeare, Siiyang, Pesapoang, serta Rawang, Ratte, Timbogading, dan Galung. Waktu terus berputar, dan seperti anak-anak yang tumbuh dewasa lalu memisahkan diri dari rumah induk, Desa Adolang pun beranak-pinak. Lahirlah Desa Adolang yang merangkul Mongeare, Siiyang, Pesapoang Barat, Pe...