Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerita Pendek

Pergi Untuk Kembali: Kisah Kehidupan Salmon

Dalam kesunyian alam, di persembunyian batu-batu sungai yang menjadi saksi bisu perputaran zaman, terlahirlah sebuah kehidupan. Ditengah desiran air yang tenang Sang Salmon kecil, terdiam rapuh di antara ribuan saudaranya yang tak bernama. Tubuhnya tak lebih dari setitik cahaya dalam gelap keabadian, namun di dalam dada mungilnya itu telah berdetak sebuah jantung yang kelak akan mengenal arti kata "perjuangan" lebih dalam dari siapa pun. Arus sungai adalah guru pertamanya, guru yang tak mengenal belas kasihan, yang mengajarkan bahwa hidup adalah pergerakan. Setiap detik adalah ujian kelangsungan hidup, setiap nafas adalah anugerah yang harus direbut dari cengkeraman kematian. Bayang-bayang pemangsa menari-nari di atas kepalanya seperti malaikat maut yang sedang bersiap menurunkan sayapnya. Namun ia belajar bahwa ketakutan adalah mewah yang tak boleh dipelihara, bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan menari bersama ketakutan itu sendiri. Ia adalah Salmon, pe...

Pesapoang Dalam Ingatan

Di ketinggian 35.000 kaki, dalam gemuruh mesin Super Air Jet yang membelah langit dari Jakarta menuju Banyuwangi, kenangan masa kecil tiba-tiba menyeruak bagaikan air terjun yang memecah keheningan. Mata memandang hamparan awan putih di bawah, namun hati melayang jauh ke masa silam, ke sebuah dusun kecil yang terbentang di antara gunung dan lembah: Pesapoang. Pesapoang, nama yang terucap lembut di lidah seperti senandung angin sore, dulunya adalah salah satu permata tersembunyi dalam mahkota Desa Adolang. Seperti bunga yang mekar bertahap, wilayah ini tumbuh dan berkembang mengikuti irama zaman. Pada masa itu, Desa Adolang bagaikan payung raksasa yang menaungi tujuh dusun: Mongeare, Siiyang, Pesapoang, serta Rawang, Ratte, Timbogading, dan Galung. Waktu terus berputar, dan seperti anak-anak yang tumbuh dewasa lalu memisahkan diri dari rumah induk, Desa Adolang pun beranak-pinak. Lahirlah Desa Adolang Dhua yang merangkul Mongeare dan  Siiyang. Sementara itu, Desa Benteng mengayomi R...

Kisah Dua Kecambah

Di sebuah hamparan tanah subur, dua kecambah kecil muncul dari dalam tanah. Mereka hidup berdampingan, disinari matahari yang sama, dan disirami hujan yang sama. Namun, keduanya memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang bagaimana mereka ingin tumbuh. Suatu pagi, Kecambah Pertama memandang sekeliling dengan ragu. "Aku tidak mau tumbuh terlalu tinggi atau terlalu lebat," bisiknya pada Kecambah Kedua. "Kalau aku terlalu tinggi, angin bisa menerbangkanku. Dan aku tidak mau akarku panjang-panjang, tanah itu gelap, lembab, dan penuh cacing! Aku tidak suka!" Kecambah Kedua menggeleng pelan. "Tapi justru itulah tantangan kita," jawabnya dengan tekad. "Aku ingin tumbuh setinggi mungkin, melihat dunia yang lebih luas. Dan akarku akan kutanam sedalam-dalamnya agar aku kuat menghadapi badai. Tanah mungkin gelap, tapi di sanalah kita menemukan kekuatan." Kecambah Pertama hanya menghela napas. "Terlalu berisiko. Aku lebih baik tetap seperti ini....

Lelaki Pembawa Nira

Kampung Pesapoang, liburan sekolah bukan masa untuk bersantai. Anak-anak di sini sudah paham bahwa waktu luang adalah peluang untuk ma'ande gaji, mencari tambahan uang saku. Ada yang ikut memetik kopi milik petani di wilayah pegunungan, ada yang jadi kenek dadakan di proyek rabat jalan, ada pula yang mengumpulkan batu di sungai dan dijual kepada kontraktor proyek jalan. Bagi kami, liburan adalah kerja, bukan rehat. Pada suatu liburan sekolah, saya dan ibu bersiap pergi ke Paminggalan, sebuah daerah kebun kopi yang letaknya jauh di seberang bukit dan lembah. Hari itu langit biru bersih. Kami berangkat pagi, membawa bekal secukupnya. Kami ditemani kerabat bernama Iyasa. Orangnya baik, tapi pikirannya kadang berkelana sendiri. Dalam bahasa kami biasa disebut Tosele-sele atau Toseno-seno. Kami melintasi lembah yang dalam, menyeberang sungai kecil, mendaki punggung bukit yang panjang dan menembus hutan yang terasa lebih rapat dari biasanya. Kami melangkah dengan keyakinan bahwa jalur se...

Puasa di Negeri Orang: Merawat Iman di Tengah Tantangan

Ramadhan selalu membawa rasa rindu. Rindu pada suara bedug magrib, rindu pada kebersamaan berbuka dengan keluarga, rindu pada suasana masjid yang ramai oleh lantunan doa dan tadarus. Namun, bagi mereka yang menjalani Ramadhan di perantauan, kerinduan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan ujian sejati tentang seberapa kuat iman dan keteguhan dalam menjalankan ibadah di lingkungan yang berbeda. Puasa kali ini mengingatkan Kembali pengalaman bersama keluarga menjalani ibadah puasa di Australia, negeri yang jauh dari gemerlap suasana Ramadhan seperti di Indonesia. Tidak ada pawai menyambut bulan suci, tidak ada warung yang tutup di siang hari sebagai bentuk penghormatan, dan tentu saja, tidak ada suara azan berkumandang dari masjid-masjid setiap saat. Di sini, kehidupan berjalan seperti biasa, tanpa ada tanda-tanda bahwa Ramadhan sedang berlangsung. Di Indonesia, kita terbiasa dengan aturan yang mendukung ibadah puasa. Rumah makan banyak yang tutup di siang hari, pusat hiburan malam mengu...

Menjemput Impian

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Raka bersama beberapa sahabat karibnya membuka kursus bahasa Inggris. Bukan di gedung mewah, tetapi di tempat sederhana yang penuh semangat dan kehangatan. Mereka tak sekadar mengajarkan bahasa, tetapi juga menumbuhkan mimpi dan keyakinan bahwa dunia luas menanti untuk dijelajahi. Program andalan mereka adalah “Perkampungan Bahasa Inggris”, sebuah kegiatan intensif dua minggu yang diadakan di sebuah benteng peninggalan kerajaan masa lalu. Tempat bersejarah yang anggun dengan tembok kokoh, menyimpan kenangan masa lampau dan aura romantis yang tak tertandingi. Di sana, di bawah langit jingga senja, peserta tak hanya belajar bahasa, tapi juga menyelami keindahan masa lalu dan merajut impian tentang masa depan. Di antara dinding kokoh benteng itu, Raka menjadi instruktur andalan. Retorikanya memikat, suaranya tenang namun penuh wibawa, dan senyumnya selalu membawa kehangatan. Ia mengajarkan bahasa dengan cara yang berbeda, membuat kata-kata terasa hidup dan...

Pelajaran dari Kasus Bojes dan Lia: Popularitas, Empati, dan Tanggung Jawab Netizen

Angin pelabuhan di Majene berhembus kencang, membawa serta isak tangis yang membelah keheningan. Lia, dengan mata sembab dan suara parau, meronta menahan kepergian Bojes. Kapal besar itu seakan menjadi saksi bisu dari drama cinta yang tak terduga. Bojes, dengan hati yang berat, terpaksa turun dari kapal, mengalah pada gelombang emosi yang meluap. Kisah mereka, yang terekam dalam video amatir, dengan cepat menyebar di dunia maya. Netizen, bak paduan suara tak terduga, ikut larut dalam emosi yang sama. Ada yang tersentuh, ada yang menghakimi, namun tak sedikit pula yang tergerak untuk membantu. Simpati dan bantuan mengalir deras, seolah membuka pintu rezeki bagi pasangan yang sedang dirundung asmara itu. Namun, di balik riuhnya dukungan, terselip bisikan sinis dan sorot mata curiga. Popularitas, dengan wajahnya yang ambigu, membawa berkah sekaligus kutukan. Ada yang tulus berbagi, ada pula yang sekadar menumpang tenar, memanfaatkan momen untuk mendongkrak popularitas diri. Bojes dan Lia,...

Ayah Mertua Berpulang

Innalillahi wainnailaihi rojiun. Malam itu (21/02/2025), langit Jakarta kelabu, seolah menahan napas panjang yang tak kunjung terhembus. Udara selepas magrib terasa lebih berat dari biasanya, membawa firasat yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aku baru saja menyelesaikan rutinitas jogging di sekitar GBK, tempat di mana keringat dan kelelahan menjadi ritual sederhana untuk menjaga kebugaran. Seperti biasa, perjalanan pulang ke rumah adalah momen tenang bagiku, saat pikiran mulai merangkai rencana-rencana esok hari. Namun, ketenangan itu pecah oleh dering ponsel yang tiba-tiba memecah kesunyian mobil. Getarannya mengguncang dada, menyayat rasa, menghantarkan kabar yang tiada pernah terbayang sebelumnya. Dari seberang sana, suara istri terdengar lirih, ia menangis, isaknya terputus-putus terisak "Bapak... Bapak sudah tiada," katanya, nyaris tak terdengar di antara helaan napas yang tertahan. Aku sedang dalam perjalanan pulang. Langit Jakarta mulai gelap. Jalanan terasa pa...

Cerber: Cahaya di Balik Langit Kelabu (2)

Matahari terbit dengan warna pucat di atas tanah retak yang seolah kelelahan menanti hujan. Langit tetap kelabu, angin tetap membawa debu, dan kehidupan di desa kecil itu terus berputar tanpa kejutan. Raka, yang dahulu menjadi kebanggaan sekolahnya, kini hanya seorang pemuda yang hilang bak tertelan masa. Setelah lulus SMA, ia kembali ke ladang, menyatu dengan tanah yang pernah menjadi saksi perjuangan ibunya. Setahun lamanya ia memegang cangkul, menanam singkong, mengangkut hasil panen, dan menjualnya ke pasar bersama ibunya. Ia mencoba menerima kenyataan bahwa mimpinya telah kandas, bahwa ilmu yang ia kejar hanya akan menjadi bayangan yang pudar seiring waktu. Namun, hidup punya caranya sendiri dalam menyalakan kembali api yang hampir padam. -------- Suatu hari, di tengah kesibukannya membantu ibunya di pasar, Raka bertemu dengan seorang pria paruh baya yang sedang mengadakan kegiatan sosial di desanya. Pria itu melihat sesuatu dalam diri Raka, cahaya yang redup tapi belum benar-bena...

Cerber: Mimpi di Tanah Gersang: Cahaya Kecil yang Menolak Padam (1)

Langit siang itu tampak enggan tersenyum. Awan-awan kelabu menggantung rendah, menahan hujan yang tak kunjung jatuh. Di bawahnya, tanah retak seperti kulit tua yang menyimpan kisah panjang tentang kemarau dan kehilangan. Angin berhembus pelan, membawa debu dan kenangan yang tak sepenuhnya padam. Di sebuah desa kecil dibalik bukit tandus, seorang anak lahir di tengah sunyi. Namanya Raka. Ia tumbuh di rumah bambu yang berdiri ringkih, berdinding anyaman tua, dengan atap yang bocor bila hujan datang. Namun di rumah sederhana itu, cinta tumbuh seperti akar yang menembus batu, pelan tapi pasti, mencari air kehidupan. Ibunya, Bu Sri, adalah sosok yang tabah. Sejak fajar, ia telah turun ke ladang, memecah kerasnya tanah, berharap ada yang bisa tumbuh meski sedikit. Di sore hari, ia menapaki jalan berdebu menuju pasar, menjajakan hasil bumi seadanya. Setiap langkahnya adalah doa; setiap peluh di wajahnya adalah pengingat, bahwa hidup selalu bisa diperjuangkan. Bagi Raka, kehidupan adalah seben...

Cerpen: Kisah Cinta Bojes dan Lia: Perpisahan memang Menyakitkan

Matahari sore itu mulai tenggelam, meninggalkan jejak-jejak jingga di langit. Angin laut bertiup pelan, membawa aroma asin dan dinginnya harapan yang belum pasti. Di Pelabuhan Majene, kerumunan orang berdesakan, sibuk dengan urusan masing-masing. Namun, di antara hiruk-pikuk itu, ada dua sosok yang tampak begitu kontras, Bojes dan Lia. Bojes, pemuda tegap dengan hati yang penuh dilema, berdiri di dekat tangga kapal. Ia memandang ke arah Lia, gadis yang selama ini menjadi alasan mengapa ia tetap bertahan dalam hidup. Mata Lia basah oleh air mata, tubuhnya gemetar, dan wajahnya penuh dengan rasa tak rela. Mereka hanya saling menatap, tanpa kata, namun ribuan emosi mengalir di antara mereka. Klakson kapal berbunyi panjang, tanda bahwa waktu keberangkatan semakin dekat. Bojes mencoba melangkah maju, namun kakinya terasa seperti tertambat di dermaga. Hatinya berontak. Ia ingin pergi demi masa depan yang lebih baik, tapi di saat yang sama, ia tidak sanggup meninggalkan Lia, gadis yang telah ...