Resensi Kolom Penta Peturun di Pramoedya.id, https://pramoedya.id/bpjs-rohana-rojali-opera-sunyi-di-negeri-yang-ramai-tapi-sepi/
Dalam kolom bertajuk "BPJS, Rohana, Rojali: Opera Sunyi di Negeri yang Ramai Tapi Sepi," Penta Peturun, Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan, menghadirkan potret yang menohok tentang paradoks konsumsi di Indonesia kontemporer. Tulisan ini berhasil mengangkat fenomena sosial yang tersembunyi di balik gemerlap pusat perbelanjaan: bagaimana ketimpangan ekonomi menciptakan ritual konsumsi semu yang ia sebut sebagai "patologi sosial yang dibalut kilauan."
Kekuatan Naratif dan Analisis
Penta membuka tulisannya dengan deskripsi yang sinematij, lantai marmer, cahaya neon, aroma kopi mahal, sebelum mengungkap realitas pahit di baliknya. Pendekatan naratif ini efektif membangun empati pembaca sekaligus menjadi jembatan menuju analisis yang lebih mendalam.
Kekuatan utama tulisan ini terletak pada kemampuan penulis menggabungkan data empiris dengan kerangka teoretis sosiologi yang solid. Rujukan pada teori anomie Durkheim dan strain theory Merton menunjukkan pemahaman yang matang tentang akar masalah. Penta tidak sekadar mendeskripsikan fenomena, tetapi memberikan landasan akademis yang memadai untuk memahami mengapa BPJS, Rohana, dan Rojali muncul sebagai respons adaptif terhadap ketegangan sosial-ekonomi.
Data statistik yang disajikan, mulai dari angka pengangguran 7,28 juta jiwa, kemiskinan 8,47%, hingga literasi keuangan yang rendah, memperkuat argumentasi bahwa ini bukan sekadar tren lifestyle, melainkan gejala struktural yang serius. Penggunaan konsep "lumpenproletariat" dalam konteks modern juga menunjukkan kedalaman analisis Marxis yang relevan.
Metafora yang Tajam, Solusi yang Pragmatis
Metafora "opera sunyi" sangat tepat menggambarkan kontradiksi antara keramaian visual dan kesunyian ekonomis. Penta berhasil menunjukkan bagaimana media sosial menjadi panggung sandiwara di mana "kehadiran menjadi lebih penting daripada kepemilikan." Kutipan langsung dari lapangan, "Kami cuma story saja, biar teman tahu kita main ke sini", memberikan suara autentik pada analisis yang mungkin terasa abstrak.
Dari sisi solusi, Penta tidak terjebak dalam kritik tanpa arah. Ia mengusulkan langkah-langkah konkret: maksimalisasi program "Indonesia Produktif," implementasi efektif Inpres No. 8 Tahun 2025, integrasi literasi finansial dalam kurikulum, hingga wacana pajak paylater. Rekomendasi ini menunjukkan pemahaman praktis seorang pejabat yang tidak hanya memahami masalah, tetapi juga instrumen kebijakan yang tersedia.
Ruang Kritik
Meski kuat dalam analisis, tulisan ini memiliki beberapa ruang kritik. Pertama, penulis kurang mengeksplorasi dimensi psikologis individual dari fenomena BPJS. Mengapa seseorang rela meluangkan waktu dan transport untuk "konsumsi simbolik" yang pada akhirnya tidak memberikan kepuasan materiil? Aspek psikologis ini penting untuk memahami mengapa perilaku ini bertahan meski secara rasional terlihat kontraproduktif.
Kedua, analisis tentang peran industri dan kapitalis dalam menciptakan "tekanan gaya hidup" masih terlalu permukaan. Bagaimana strategi marketing yang sophisticated menciptakan desire yang artificial? Bagaimana algoritma media sosial memperkuat social comparison? Kritik terhadap sistem yang menciptakan masalah ini perlu lebih tajam.
Ketiga, solusi yang diusulkan masih bersifat top-down dan birokratis. Tidak ada eksplorasi tentang potensi gerakan grassroots atau community-based solutions yang mungkin lebih sustainable dalam mengubah perilaku konsumsi.
Relevansi dan Signifikansi
Terlepas dari kririk tersebut, tulisan Penta Peturun ini memiliki nilai signifikan dalam diskusi tentang ketimpangan sosial di Indonesia. Di era di mana narrative tentang "kelas menengah yang tumbuh" sering digembar-gemborkan, tulisan ini mengingatkan kita pada realitas yang lebih kompleks: ada segmen besar masyarakat yang secara kultural terasimilasi ke dalam middle-class aspiration, namun secara ekonomis tetap termarjinalkan.
Fenomena BPJS juga relevan dengan diskusi global tentang "performative consumption" dan "poverty of aspiration." Dalam konteks Indonesia yang sedang mengalami transisi demografis dan digital, fenomena ini berpotensi menjadi lebih masif jika tidak ditangani dengan serius.
Kesimpulan
"BPJS, Rohana, Rojali: Opera Sunyi di Negeri yang Ramai Tapi Sepi" adalah tulisan yang berhasil mengangkat isu sosial yang penting namun sering diabaikan. Penta Peturun menunjukkan kemampuan menulis yang mumpuni, menggabungkan narasi yang engaging, analisis teoretis yang solid, dan rekomendasi kebijakan yang pragmatis.
Meski ada ruang untuk kritik yang lebih mendalam terhadap sistem yang menciptakan masalah ini, tulisan ini tetap menjadi kontribusi berharga dalam memahami paradoks konsumsi di Indonesia kontemporer. Yang terpenting, tulisan ini berhasil memberikan suara pada mereka yang sering tidak terdengar dalam diskusi ekonomi makro: mereka yang hidup di "pinggir arena konsumsi," namun tetap berusaha mempertahankan dignitas sosial melalui cara-cara yang tersedia.
Sebagai sebuah "opera sunyi," tulisan ini berhasil membuat kita mendengar jeritan yang selama ini teredam oleh gemerlap neon dan hiruk-pikuk mal. Dan mungkin, itulah langkah pertama menuju solusi yang lebih bermakna.
Comments
Post a Comment