Catatan Akhir Tahun: Kontribusi, Kolaborasi dan Komtemplasi
Tahun 2025 telah berlalu seperti sungai yang mengalir deras, membawa dalam arusnya segala rupa pengalaman: kegembiraan dan kesedihan, pencapaian dan kehilangan, pertemuan dan perpisahan. Ketika saya merenungkan perjalanan dua belas bulan terakhir ini, saya menyadari bahwa hidup adalah sebuah tapestri rumit yang ditenun dari benang-benang kontras: cahaya dan bayangan, sukses profesional dan duka pribadi, momentum maju dan momen refleksi yang memaksa kita berhenti sejenak.
Setahun yang lalu, saya menerima amanah sebagai Direktur Bina Peningkatan Produktivitas di Kementerian Ketenagakerjaan, sebuah tanggung jawab yang tidak saya ambil dengan enteng. Produktivitas, dalam pemahaman saya, adalah jantung dari kemajuan bangsa, adalah ukuran seberapa efektif kita mengubah sumber daya menjadi kesejahteraan, mengubah potensi menjadi prestasi. Dalam setahun ini, bersama tim yang luar biasa, kami berhasil menyusun Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia untuk bidang Produktivitas, sebuah pencapaian yang mungkin terdengar teknis bagi telinga awam, namun merupakan fondasi penting bagi pembangunan ekosistem produktivitas nasional. Dokumen-dokumen ini adalah peta jalan bagi pengembangan kompetensi profesional produktivitas di Indonesia, adalah pengakuan formal bahwa produktivitas adalah sebuah disiplin ilmu yang memerlukan keahlian khusus, bukan sekadar slogan atau seruan moral.
Namun perjalanan profesional tidak berhenti di situ, saya dipercaya untuk mengemban tugas tambahan sebagai Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar Pengembangan Vokasi dan Produktivitas Bekasi. Di sini, kolaborasi kami mengimplementasikannya dalam bentuk nyata. Kerjasama dengan Panasonic untuk pengembangan workshop pelatihan Refrigerasi dan AC adalah sebuah milestone yang membanggakan, sebuah jembatan antara dunia pendidikan vokasi dan kebutuhan industri riil. Teknologi pendingin bukan lagi barang mewah, tetapi kebutuhan dasar di negara tropis seperti Indonesia, dan kami memastikan bahwa tenaga kerja kita siap dengan kompetensi yang diakui industri. Belum lagi kerjasama dengan Cherry untuk workshop mobil listrik, sebuah langkah antisipatif menghadapi transformasi industri otomotif global. Kendaraan listrik bukan lagi wacana futuristik, tetapi realitas yang mengetuk pintu kita, dan Bekasi memposisikan diri di garis depan persiapan SDM untuk masa depan ini.
Pertengahan tahun membawa saya ke pengalaman yang mengubah perspektif, yaitu Executive Leadership Training di INSEAD Fontainebleau, Prancis. Kampus yang terletak di tengah hutan yang tenang itu menjadi ruang kontemplasi dan pembelajaran intensif. Namun yang paling berkesan bukanlah semata materi pelatihan, melainkan perjalanan menggunakan kereta api melintasi negara-negara Eropa setelahnya. Dari jendela kereta yang melaju, saya menyaksikan perubahan lanskap, dari arsitektur Gothic Prancis ke kastil-kastil Jerman, dari padang Alpine Swiss ke kota-kota bersejarah Austria dan Hungaria. Ada sesuatu yang meditatif dalam perjalanan kereta api: kecepatan yang cukup untuk membawa kita ke tempat tujuan, namun cukup lambat untuk membiarkan kita merenung. Saya menyadari bahwa kepemimpinan, seperti perjalanan kereta ini, adalah tentang navigasi, memahami medan, mengantisipasi tikungan, namun juga menikmati pemandangan di sepanjang jalan, tidak melulu terfokus pada destinasi akhir.
Tak lama setelah kembali, saya terbang ke New Delhi untuk Study Mission APO. India, dengan segala kontradiksinya: kemiskinan ekstrem dan teknologi canggih, tradisi kuno dan startup modern, semuanyabmenawarkan pelajaran berharga tentang pembangunan. Kunjungan ke pusat-pusat produktivitas mereka, diskusi dengan para ahli, dan pengamatan langsung terhadap bagaimana negara dengan populasi 1,4 miliar mengelola tantangan produktivitas memberi saya perspektif baru. Saya pulang dengan pemahaman bahwa tidak ada solusi one-size-fits-all, bahwa setiap negara harus menemukan jalan produktivitasnya sendiri yang sesuai dengan konteks budaya, ekonomi, dan sosialnya.
Puncak pencapaian profesional tahun ini datang ketika Indonesia menjadi tuan rumah 66th Governing Body Meeting Asian Productivity Organization. Sebagai host, tanggung jawab kami bukan hanya protokoler, tetapi juga strategis. Kami berhasil, dan ini adalah keberhasilan kolektif seluruh tim Indonesia, mendudukkan kandidat Indonesia sebagai Sekretaris Jenderal APO dengan dukungan suara mayoritas. Ini bukan sekadar kemenangan politik organisasi, tetapi pengakuan terhadap kredibilitas dan kepemimpinan Indonesia di tingkat regional. Dalam rapat yang penuh dengan diplomasi halus dan negosiasi kompleks itu, saya belajar bahwa kepemimpinan regional memerlukan tidak hanya kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan membangun konsensus, memahami kepentingan beragam negara anggota, dan mengkomunikasikan visi dengan cara yang menginspirasi kepercayaan.
Perjalanan internasional berlanjut ke Seoul, Korea Selatan, untuk Workshop Meeting APO. Seoul, dengan sistemnya yang sangat efisien, infrastruktur canggih, dan budaya kerja yang disiplin, adalah studi kasus hidup tentang bagaimana produktivitas tinggi dapat mengubah sebuah negara dari kehancuran pasca-perang menjadi kekuatan ekonomi global dalam satu generasi. Namun saya juga menangkap nuansa yang lebih dalam: bahwa produktivitas tanpa keseimbangan hidup dapat menciptakan masalah baru: tingkat stres tinggi, angka kelahiran rendah, kesenjangan sosial. Pelajaran ini penting: dalam mengejar produktivitas, kita tidak boleh kehilangan kemanusiaan kita.
Menjelang akhir tahun, saya menerima penugasan baru sebagai Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar Pengembangan Vokasi dan Produktivitas Makassar. Ini adalah tantangan yang berbeda; mengelola institusi yang melayani kawasan Indonesia Timur, region yang kaya akan potensi namun seringkali tertinggal dalam akses terhadap pelatihan berkualitas. Makassar bukan hanya kota transit, tetapi gerbang ke seluruh Sulawesi, Maluku, dan Papua. Tanggung jawab ini membawa dimensi baru: bagaimana memastikan pemerataan akses terhadap peningkatan kompetensi, bagaimana menjembatani kesenjangan antara pusat dan daerah. Saya menyadari bahwa keadilan dalam pembangunan SDM adalah prasyarat bagi produktivitas nasional yang berkelanjutan.
Sepanjang tahun, saya juga berkesempatan berbagi pengetahuan dan pengalaman sebagai pembicara di berbagai seminar dan konferensi, baik nasional maupun internasional. Setiap panggung adalah kesempatan untuk menyebarkan gagasan, menginspirasi perubahan, dan juga belajar dari pertanyaan dan perspektif audiens. Saya selalu percaya bahwa pengetahuan yang tidak dibagikan adalah seperti air yang menggenang; lama-lama akan menjadi basi. Maka setiap undangan berbicara saya terima bukan sebagai kehormatan semata, tetapi sebagai tanggung jawab untuk berkontribusi pada diskursus publik tentang produktivitas dan pembangunan SDM.
Namun di tengah semua pencapaian profesional itu, tahun 2025 juga mencatat kehilangan yang mendalam. Mertua saya meninggal dunia, meninggalkan kekosongan dalam keluarga. Lalu, beberapa bulan kemudian, Bapak menyusul. Kehilangan orang tua adalah pengalaman yang paradoksal; kita tahu bahwa ini adalah bagian alami dari siklus kehidupan, bahwa kita semua akan mengalaminya, namun pengetahuan rasional ini tidak mengurangi rasa kehilangan. Kesedihan kali ini berbeda dengan tiga puluh tahun lalu ketika Ibunda tercinta meninggal. Dulu, saya masih muda, dan kehilangan Ibu terasa seperti kehilangan sebagian dari diri saya sendiri; dunia tiba-tiba menjadi tempat yang asing dan menakutkan. Kini, dengan Bapak, kesedihan itu ada tetapi bercampur dengan rasa syukur; syukur atas tahun-tahun tambahan yang kami miliki bersama, atas percakapan-percakapan terakhir, atas kesempatan mengucapkan hal-hal yang perlu diucapkan. Mungkin inilah yang dimaksud dengan kedewasaan emosional: kemampuan menerima kehilangan bukan dengan kepasrahan yang kalah, tetapi dengan penerimaan yang bijaksana, mengerti bahwa kehidupan adalah pinjaman dan kematian adalah pengembalian yang pasti.
Di antara duka, datang sebuah momen penutupan yang sudah lama tertunda. Sepuluh tahun yang lalu, saya menyelesaikan studi doktoral di Victoria University, namun karena berbagai alasan, saya tidak bisa hadir dalam upacara wisuda. Tahun ini, akhirnya saya berkesempatan menghadiri VU Graduation Ceremony di Kuala Lumpur, Malaysia. Memakai jubah akademik, berjalan melintasi panggung, menerima ijazah; semua ritual ini mungkin terlihat simbolis belaka, tetapi bagi saya memiliki makna penutupan yang penting. Ini adalah pengakuan formal atas sebuah perjalanan intelektual yang panjang, adalah titik di akhir kalimat yang selama ini tergantung. Dan dalam penutupan itu, ada juga pembukaan: pengingat bahwa tidak ada kata terlambat untuk menyelesaikan apa yang tertunda, bahwa kesabaran dan persistensi pada akhirnya akan membuahkan hasil.
Ketika saya merenungkan keseluruhan tahun 2025, saya melihat sebuah mozaik yang kompleks. Secara profesional, ini adalah tahun yang produktif dalam arti sesungguhnya; banyak yang diselesaikan, banyak yang dimulai, banyak benih yang ditanam untuk panen masa depan. Namun secara pribadi, ini juga tahun yang mengajarkan saya tentang keterbatasan, tentang fakta bahwa sekuat apapun kita dalam ranah profesional, kita tetap rentan dalam ranah personal. Saya belajar bahwa kehebatan sejati bukan tentang tidak pernah jatuh atau tidak pernah berduka, tetapi tentang bangkit dan melanjutkan setelah jatuh, tentang tetap berfungsi dan berkontribusi bahkan di tengah duka.
Ada sebuah kebijaksanaan yang sering orang tua dulu ucapkan: "hidup itu menerangi” . Maksudnya, tujuan hidup adalah menjadi cahaya bagi orang lain, memberi manfaat, berkontribusi pada kebaikan yang lebih besar dari diri kita sendiri. Tahun 2025 mengajarkan saya bahwa cahaya itu tidak selalu terang benderang; kadang ia redup, gemetar di tengah angin kehilangan dan kesedihan. Namun selama ia tetap menyala, selama kita tetap berusaha memberi manfaat meski terluka, kita masih menjalankan amanat untuk menerangi.
Saat tahun berganti, saya tidak membuat resolusi muluk atau target ambisius yang sering berakhir terlupakan di pertengahan Januari. Sebaliknya, saya hanya berdoa untuk kekuatan melanjutkan, kekuatan untuk terus belajar, untuk terus berkontribusi, untuk tetap hadir penuh baik dalam sukses maupun kesulitan. Dan saya berdoa untuk kebijaksanaan mengenali apa yang penting: bahwa pada akhirnya, yang tersisa bukan jabatan atau pencapaian atau penghargaan, tetapi dampak yang kita tinggalkan pada kehidupan orang lain, jejak kebaikan yang kita tanamkan dalam sistem dan institusi, dan kenangan cinta yang kita wariskan pada mereka yang kita tinggalkan.
Tahun 2025, dengan segala kompleksitasnya, adalah pengingat bahwa hidup tidak linear, tidak sederhana, tidak bisa diprediksi seperti rumus matematika. Ia adalah perjalanan dengan banyak jalur, penuh dengan persimpangan yang memaksa kita memilih, penuh dengan tanjakan yang menguras tenaga dan turunan yang memberi nafas. Dan mungkin, keindahan sejati dari perjalanan ini terletak justru pada ketidakpastiannya, pada cara ia membentuk dan mengubah kita, pada pelajaran yang ia berikan; kadang dengan lembut, kadang dengan keras.
Selamat tinggal, 2025. Terima kasih atas semua yang engkau ajarkan. Dan selamat datang, 2026, apapun yang engkau bawa, saya siap menerimamu dengan hati yang terbuka, jiwa yang tangguh, dan semangat yang tidak pernah padam.
Comments
Post a Comment