Di ketinggian 35.000 kaki, dalam gemuruh mesin Super Air Jet yang membelah langit dari Jakarta menuju Banyuwangi, kenangan masa kecil tiba-tiba menyeruak bagaikan air terjun yang memecah keheningan. Mata memandang hamparan awan putih di bawah, namun hati melayang jauh ke masa silam, ke sebuah dusun kecil yang terbentang di antara gunung dan lembah: Pesapoang.
Jejak Sejarah dalam Bayang Waktu
Pesapoang, nama yang terucap lembut di lidah seperti senandung angin sore, dulunya adalah salah satu permata tersembunyi dalam mahkota Desa Adolang. Seperti bunga yang mekar bertahap, wilayah ini tumbuh dan berkembang mengikuti irama zaman.
Pada masa itu, Desa Adolang bagaikan payung raksasa yang menaungi tujuh dusun: Mongeare, Siiyang, Pesapoang, serta Rawang, Ratte, Timbogading, dan Galung.
Waktu terus berputar, dan seperti anak-anak yang tumbuh dewasa lalu memisahkan diri dari rumah induk, Desa Adolang pun beranak-pinak. Lahirlah Desa Adolang yang merangkul Mongeare, Siiyang, Pesapoang Barat, Pesapoang Timur, dan Rawang. Sementara itu, Desa Benteng mengayomi Ratte, Banua, Belia, Timbogading, dan Galung. Pemekaran demi pemekaran terus berlanjut, hingga akhirnya tercipta Desa Adolang, Adolang Dhua, Banua Adolang, dan Betteng, sebuah konstelasi desa yang terhubung oleh akar sejarah yang sama.
Pesapoang: Permata di Pelukan Gunung
Pesapoang terletak sekitar tiga kilometer dari hiruk-pikuk Jalan Trans Sulawesi, seolah sengaja bersembunyi dari derasnya arus modernitas. Tiga belas kilometer memisahkannya dari Pamboang, ibu kota kecamatan, dan tiga puluh tiga kilometer dari kemegahan Majene, ibu kota kabupaten.
Dusun ini terbentang bagaikan lukisan alam yang sempurna, dipeluk oleh deretan gunung dan perbukitan yang menjulang gagah. Pegunungan itu berdiri kokoh seperti benteng raksasa, melindungi penduduknya dari gempuran angin kencang dan badai kehidupan. Di antara pelukan alam yang hangat inilah, kehidupan mengalir tenang mengikuti alur sungai yang membelah kampung.
Pesapoang di Dekade 1990-an: Potret Kehidupan Sederhana
Tahun 1990-an adalah era di mana kesederhanaan menjadi kemewahan sejati. Pesapoang pada masa itu telah memiliki sarana-sarana dasar yang menjadi nadi kehidupan: sumber air bersih yang mengalir jernih, Puskesmas yang menjadi benteng kesehatan, Sekolah Dasar yang menyemai benih ilmu pengetahuan, lapangan sepak bola yang menjadi gelanggang impian para pemuda, dan masjid yang menjadi pusat kehidupan spiritual.
Yang paling berkesan adalah cekdam, bendungan kecil yang menjadi surga bermain anak-anak. Air sungai dibendung dengan konstruksi sederhana, menciptakan kolam yang jernih dan sejuk. Di sinilah kami menghabiskan sore-sore dengan tawa riang, berenang dan bermain air hingga matahari tenggelam di balik bukit. Namun, seperti semua yang indah di dunia ini, cekdam itu tidak abadi. Suatu hari, debit air yang membesar akibat hujan deras melampaui kemampuannya. Air meluap hingga punggung bendungan, mengikis badan dam dari belakang, hingga akhirnya roboh dan menjadi kenangan.
Akses jalan menuju jalur Trans Sulawesi pada masa itu masih berupa jalan pengerasan batu, berliku-liku dan berbukit-bukit mengikuti kontur alam. Setiap perjalanan menjadi petualangan tersendiri, dengan debu yang berterbangan di musim kemarau dan lumpur yang licin di musim hujan.
Agustus: Bulan yang Bersolek
Bila Agustus tiba, Pesapoang berubah wajah. Seluruh dusun bersolek menyambut hari kemerdekaan dengan semangat yang membara. Rumah-rumah yang tertata rapi di sepanjang jalan, mengikuti aliran sungai, mengibarkan bendera merah putih di setiap halamannya. Umbul-umbul berwarna-warni menari ditiup angin, dan yang paling memukau adalah pagar bambu yang dicat putih hitam menghiasi seluruh kampung.
Cat putih terbuat dari kapur yang kami sebut "pallili," sementara cat hitam berasal dari serbuk yang kami ambil dari dalam baterai bekas. Meski tidak tahan lama dan mudah luntur dimakan hujan, kerja keras mengecat pagar itu menjadi ritual tahunan yang penuh makna. Setiap sapuan kuas adalah ungkapan cinta pada tanah air, setiap goresan warna adalah simbol persatuan dalam keberagaman.
Puncak perayaan adalah porseni di ibu kota kecamatan. Untuk mencapai Pamboang, kami menumpang mobil Kijang milik Pak Lemang dari dusun sebelah, atau nekad mengayuh sepeda ontel melawan terpaan angin. Perjalanan dengan sepeda menjadi tantangan tersendiri, terutama saat angin bertiup kencang dari arah berlawanan, membuat kayuhan terasa berat seperti mendaki gunung. Lututpun serasa mau copot dibuatnya.
Gotong Royong: DNA Pesapoang
Yang paling membekas dalam ingatan adalah semangat gotong royong yang mengalir dalam darah setiap warga Pesapoang. Setiap Jumat, tanpa perlu komando, seluruh warga turun tangan membersihkan kampung. Saluran air dari bambu belah tengah yang mengalirkan air jernih dari sumber mata air dibersihkan dengan teliti, jalan-jalan kampung disapu bersih, dan sampah-sampah dikumpulkan.
Ketika ada warga yang mengadakan hajatan, entah membangun rumah, pernikahan, khitanan, atau syukuran, secara otomatis seluruh kampung bergerak. Tanpa undangan formal, tanpa koordinasi khusus, tetangga datang berduyun-duyun membawa bantuan. Ada yang mengumpulkan kayu bakar, ada yang membantu memasak, ada yang menyiapkan tempat, dan ada yang mengatur acara.
Peralatan masak, piring, gelas, kursi dan meja, semua dapat dipinjam dengan mudah dari tetangga. Yang memukau adalah sistem pencatatan yang rapi: setiap barang yang dipinjam dicatat dengan teliti, dan dipastikan dikembalikan dalam kondisi sama seperti saat dipinjam. Jika ada yang hilang atau pecah, tuan rumah dengan sukarela menggantinya.
Tradisi paling indah adalah sistem "nyumbang" saat ada pernikahan. Tetangga datang membawa beras, terigu, gula, dan bahan dapur lainnya. Ada pula yang membawa uang tunai. Semua tercatat rapi dalam buku khusus, dan suatu saat kelak, ketika si penyumbang mengadakan hajatan, tradisi ini akan dibalas dengan cara yang sama. Begitulah warga saling meringankan beban, saling menguatkan dalam suka dan duka.
Mata Pencaharian dan Tradisi Mingguan
Sebagian besar warga Pesapoang adalah petani dan peternak. Kebun-kebun terbentang di sekeliling dusun, sementara di sekitar rumah, ayam, kambing, dan sapi dipelihara. Namun, ada satu tradisi unik yang menjadi ciri khas: berburu babi setiap hari Minggu.
Tradisi perburuhan babi dilakukan untuk menjaga tanaman warga dari serbuan hama babi. Tradisi ini dilakukan antar kampung dengan kesepakatan area perburuan yang jelas. Setiap keluarga memelihara anjing khusus untuk berburu. Ketika Minggu tiba, puluhan pria berkumpul dengan tombak dan anjing-anjing mereka. Anjing akan mencari persembunyian babi di hutan, lalu mengejarnya sampai keluar dari sarangnya. Para pemburu menunggu di jalur-jalur yang akan dilewati babi dengan tombak siap di tangan.
Tidak jarang babi yang terdesak menjadi ganas dan menyerang balik. Dalam situasi seperti itu, para pemburu terpaksa memanjat pohon untuk menyelamatkan diri. Babi yang berhasil ditangkap dikumpulkan dan dibakar di tempat. Dagingnya dipotong-potong dan dibagikan kepada para pemburu sebagai makanan anjing untuk hari-hari berikutnya.
Jepa: Makanan Pokok yang Istimewa
Makanan pokok sehari-hari bukanlah beras, melainkan jepa yang terbuat dari ubi kayu. Proses pembuatannya adalah seni tersendiri: ubi kayu diparut halus, diperas hingga airnya benar-benar habis, lalu diayak menggunakan saringan bambu hingga menjadi bubuk kasar.
Bubuk ubi kayu ini dimasak di atas ”panjepang”, lempengan tanah liat yang dipanaskan dengan api kayu bakar. Bubuk disebar membentuk bundaran tipis, dipanaskan sambil dibolak-balik hingga matang. Jepa yang masih hangat dimakan dengan bau peapi, ikan yang dimasak dengan kunyit dan asam, menciptakan perpaduan rasa yang tak terlupakan.
Ramadhan: Bulan yang Penuh Berkah
Jika ada masa yang paling dirindukan, itu adalah suasana Ramadhan di Pesapoang. Masjid menjadi jantung kehidupan kampung pada malam hari. Sepanjang jalan menuju masjid, gadis-gadis kampung berjualan kacang tanah (canngoreng) yang disangrai dengan pasir panas. Aroma kacang yang harum bercampur dengan udara malam yang sejuk menciptakan atmosfer yang tak terlupakan.
Masjid selalu penuh sesak saat shalat tarawih. Suara anak-anak yang serentak mengucapkan "Amin" di akhir Al-Fatihah bergema kencang, menciptakan kehanyutan spiritual yang mendalam. Dua puluh rakaat tarawih ditambah tiga rakaat witir dilaksanakan dengan khusyuk.
Yang paling istimewa adalah tradisi membaca Qur'an setelah tarawih. Anak-anak muda berkumpul, membagi surah-surah untuk dibacakan bersama. Satu mushaf Qur'an bisa tamat dibaca dalam dua atau tiga hari. Masyarakat secara bergantian menyediakan kue-kue tradisional untuk para pengaji, momen yang paling ditunggu-tunggu dengan hidangan berbagai kue kampung yang lezat.
Tradisi membaca Qur'an ini berakhir di pertengahan Ramadhan dengan doa dan buka bersama di masjid bersama seluruh warga. Anehnya, setelah itu tidak ada lagi pembacaan Qur'an bersama, padahal justru di penghujung Ramadhan terdapat Lailatul Qadar yang menganjurkan kita memperbanyak ibadah. Hingga kini, teka-teki itu masih tersimpan dalam benak.
Merantau: Jembatan Harapan
Balikpapan, Kalimantan Timur, adalah magnet yang menarik anak-anak muda Pesapoang untuk merantau. Selain itu, Sabah, Malaysia Timur juga menjadi destinasi impian. Banyak di antara mereka yang berhasil membawa pulang hasil jerih payah: uang untuk memperbaiki rumah orang tua, modal untuk menikah dengan gadis kampung, atau investasi kambing atau sapi untuk dipelihara. Ada pula yang menikah di perantauan dan membawa istri ke kampung.
Para perantau biasanya hanya bertahan beberapa bulan di kampung. Ketika tabungan menipis, panggilan tanah rantau kembali menguat. Bahkan tidak jarang mereka terpaksa meminjam uang kepada tetangga atau keluarga hanya untuk membeli tiket kapal laut kembali ke tanah harapan.
Pada masa itu, persepsi terhadap perantau sangatlah positif. Mereka dianggap sebagai kebanggaan keluarga, sosok yang berani menerjang ombak kehidupan demi masa depan yang lebih baik.
Epilog: Jejak yang Tak Pernah Pudar
Kini, dalam gemuruh mesin pesawat yang membawa saya melintasi nusantara, kenangan tentang Pesapoang kembali hidup dengan segala keindahannya. Dusun kecil yang terpeluk gunung itu telah mengukir jejak mendalam dalam sanubari, menjadi kompas moral dalam menjalani kehidupan di kota besar yang serba cepat dan individual.
Pesapoang mengajarkan makna sejati tentang kebersamaan, gotong royong, dan kehangatan persaudaraan. Di sana, tidak ada yang merasa asing, setiap orang adalah keluarga, dan setiap masalah adalah tanggung jawab bersama. Nilai-nilai luhur itu kini semakin langka di tengah arus modernisasi yang menghanyutkan.
Meski fisik telah jauh dari tanah kelahiran, jiwa tetap terikat pada akar-akar yang tertanam dalam di tanah Pesapoang. Setiap hembusan angin sore mengingatkan pada angin yang menyapu perbukitan kampung halaman. Setiap suara gemericik air mengingatkan pada aliran sungai yang membelah dusun. Dan setiap kali melihat orang saling membantu, hati kembali terpanggil pada semangat gotong royong yang mengalir di Pesapoang.
Pesapoang bukan sekadar tempat lahir, melainkan rumah jiwa yang akan selalu menjadi pelabuhan pulang, meski perahu kehidupan telah berlayar jauh melintasi samudra yang luas. Di sana tersimpan memori terindah yang akan terus mengalir seperti sungai yang tak pernah kering, memberikan kehidupan pada jiwa yang haus akan makna kebersamaan sejati.
Ditulis di atas awan, 35.000 kaki dari permukaan laut, dalam perjalanan Jakarta-Banyuwangi, ketika kenangan tiba-tiba menyeruak bagai air terjun yang memecah keheningan hati.
Alhamdulillah dengan adanya tulisan ini, jadi mengingatkan kembali kisah perjalanan di masa laluπππ
ReplyDelete