Skip to main content

Posts

Showing posts from 2025

Catatan Akhir Tahun: Kontribusi, Kolaborasi dan Komtemplasi

Tahun 2025 telah berlalu dengan segala rupa pengalaman: kegembiraan dan kesedihan, pencapaian dan kehilangan, pertemuan dan perpisahan. Ketika saya merenungkan perjalanan dua belas bulan terakhir ini, saya menyadari bahwa hidup adalah sebuah tapestri rumit yang ditenun dari benang-benang kontras: cahaya dan bayangan, sukses profesional dan duka pribadi, momentum maju dan momen refleksi yang memaksa kita berhenti sejenak. Setahun yang lalu, saya menerima amanah sebagai Direktur Bina Peningkatan Produktivitas di Kementerian Ketenagakerjaan, sebuah tanggung jawab yang tidak saya ambil dengan enteng. Produktivitas, dalam pemahaman saya, adalah jantung dari kemajuan bangsa, adalah ukuran seberapa efektif kita mengubah sumber daya menjadi kesejahteraan, mengubah potensi menjadi prestasi. Dalam setahun ini, bersama tim yang luar biasa, kami berhasil menyusun Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia untuk bidang Produktivitas, sebuah pencapaian ya...

Pertambangan Batu di Adolang: Antara Janji Kesejahteraan dan Ancaman Kehidupan

Indonesia yang kaya akan sumber daya mineral kerap menghadapi paradoks klasik: bagaimana eksploitasi sumber daya alam dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan dan harmoni sosial? Kasus pertambangan batu di wilayah adat Adolang, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, menawarkan cermin reflektif dalam memahami kompleksitas hubungan antara pertambangan, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian lingkungan. Yang membuat kasus ini semakin rumit adalah kenyataan bahwa masyarakat Adolang sendiri terbelah: ada yang melihat tambang sebagai peluang ekonomi, ada pula yang melihatnya sebagai ancaman eksistensial terhadap kehidupan mereka. Aktivis masyarakat adat telah menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap operasi pertambangan Galian C yang beroperasi sejak beberapa tahun terakhir. Meskipun mengantongi izin resmi dengan luas konsesi puluhan hektare untuk komoditas batu gunung, keberadaan tambang ini memantik resistensi dari sebagian...

Stagnasi Produktivitas Indonesia: Ancaman Nyata Bagi Pertumbuhan Ekonomi dan Indonesia Emas 2045

Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen, yang dibutuhkan untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Data produktivitas nasional periode 1971-2022 mengungkap akar masalah yang selama ini luput dari perhatian: stagnasi Total Factor Productivity (TFP) yang berlangsung lebih dari dua dekade. Sebelum memahami permasalahan produktivitas Indonesia, penting untuk mengenal konsep Total Factor Productivity atau TFP. Dalam ilmu ekonomi, pertumbuhan ekonomi suatu negara berasal dari tiga sumber utama: penambahan tenaga kerja, penambahan modal (investasi), dan peningkatan efisiensi penggunaan kedua faktor tersebut. TFP adalah ukuran efisiensi ini, seberapa taktis suatu negara mengombinasikan tenaga kerja dan modal untuk menghasilkan output. TFP mencerminkan kemajuan teknologi, inovasi, kualitas manajemen, efisiensi institusi, dan seluruh aspek yang membuat perekonomian menjadi lebih produktif tanpa harus menambah input. Sebagai ilustrasi sederh...

"Job Hugging": Fenomena Baru Dunia Kerja Indonesia di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Di ruang meeting yang remang-remang sebuah perusahaan teknologi di Jakarta Selatan, Sari duduk gelisah menghadapi kesempatan yang sudah lama dinanti-nantikan. Perusahaan startup yang berkembang pesat menawarkan posisi dengan gaji 40% lebih tinggi dan benefit yang lebih menarik. Namun setelah berpikir berhari-hari, dia memutuskan untuk menolak. "Saya takut startup itu tidak bertahan lama. Di sini, meski gajinya pas-pasan, setidaknya masih ada kepastian," ungkapnya. Sari adalah salah satu dari jutaan pekerja Indonesia yang kini mengalami fenomena "job hugging" , kecenderungan untuk bertahan di tempat kerja meski kondisinya tidak ideal. Berbeda dengan tren global "quiet quitting" dan "great resignation" yang sempat mengguncang dunia kerja, Indonesia justru menghadapi situasi sebaliknya. Job hugging merujuk pada perilaku karyawan yang enggan berpindah kerja meskipun memiliki kesempatan atau alasan kuat untuk melakukannya. Mereka memilih "m...

Pergi Untuk Kembali: Kisah Kehidupan Salmon

Dalam kesunyian alam, di persembunyian batu-batu sungai yang menjadi saksi bisu perputaran zaman, terlahirlah sebuah kehidupan. Ditengah desiran air yang tenang Sang Salmon kecil, terdiam rapuh di antara ribuan saudaranya yang tak bernama. Tubuhnya tak lebih dari setitik cahaya dalam gelap keabadian, namun di dalam dada mungilnya itu telah berdetak sebuah jantung yang kelak akan mengenal arti kata "perjuangan" lebih dalam dari siapa pun. Arus sungai adalah guru pertamanya, guru yang tak mengenal belas kasihan, yang mengajarkan bahwa hidup adalah pergerakan. Setiap detik adalah ujian kelangsungan hidup, setiap nafas adalah anugerah yang harus direbut dari cengkeraman kematian. Bayang-bayang pemangsa menari-nari di atas kepalanya seperti malaikat maut yang sedang bersiap menurunkan sayapnya. Namun ia belajar bahwa ketakutan adalah mewah yang tak boleh dipelihara, bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan menari bersama ketakutan itu sendiri. Ia adalah Salmon, pe...

Empat Tipe Pelaku Olahraga: Sebuah Refleksi Fenomena Sosial Kontemporer

Perjalanan menuju hidup sehat memang tidak pernah mudah, tapi juga tidak sesulit yang kita bayangkan. Ketika resolusi tahun baru tentang pola hidup sehat mulai dijalankan dengan komitmen berolahraga setiap hari, jalan kaki 3-5 kilometer atau sekitar 5 putaran Gelora Bung Karno, ternyata hasilnya cukup mengejutkan. Tubuh terasa lebih nyaman, lingkar perut menyusut, berat badan turun, dan teman-teman lama mulai berkomentar tentang perubahan penampilan yang terlihat jelas. Baju-baju yang sempat "pensiun dini" karena terlalu sesak kini bisa dikenakan kembali dengan percaya diri. Yang menarik dari pengalaman ini adalah temuan bahwa mengontrol pola makan ternyata tidak memberikan dampak signifikan terhadap penurunan berat badan. Meski sudah berusaha mengurangi karbohidrat dan membatasi makan berat hanya 1-2 kali sehari, tubuh tetap terasa "melar". Hal ini selaras dengan teori energy balance dalam fisiologi olahraga yang menyatakan bahwa kunci utama manajemen berat badan a...

Membongkar Sandiwara Konsumsi

Resensi Kolom Penta Peturun di Pramoedya.id,  https://pramoedya.id/bpjs-rohana-rojali-opera-sunyi-di-negeri-yang-ramai-tapi-sepi/ Dalam kolom bertajuk "BPJS, Rohana, Rojali: Opera Sunyi di Negeri yang Ramai Tapi Sepi," Penta Peturun, Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan, menghadirkan potret yang menohok tentang paradoks konsumsi di Indonesia kontemporer. Tulisan ini berhasil mengangkat fenomena sosial yang tersembunyi di balik gemerlap pusat perbelanjaan: bagaimana ketimpangan ekonomi menciptakan ritual konsumsi semu yang ia sebut sebagai "patologi sosial yang dibalut kilauan." Kekuatan Naratif dan Analisis Penta membuka tulisannya dengan deskripsi yang sinematij, lantai marmer, cahaya neon, aroma kopi mahal, sebelum mengungkap realitas pahit di baliknya. Pendekatan naratif ini efektif membangun empati pembaca sekaligus menjadi jembatan menuju analisis yang lebih mendalam. Kekuatan utama tulisan ini terletak pada kemampuan penulis menggabungkan data empiris dengan ke...

Pesapoang Dalam Ingatan

Di ketinggian 35.000 kaki, dalam gemuruh mesin Super Air Jet yang membelah langit dari Jakarta menuju Banyuwangi, kenangan masa kecil tiba-tiba menyeruak bagaikan air terjun yang memecah keheningan. Mata memandang hamparan awan putih di bawah, namun hati melayang jauh ke masa silam, ke sebuah dusun kecil yang terbentang di antara gunung dan lembah: Pesapoang. Pesapoang, nama yang terucap lembut di lidah seperti senandung angin sore, dulunya adalah salah satu permata tersembunyi dalam mahkota Desa Adolang. Seperti bunga yang mekar bertahap, wilayah ini tumbuh dan berkembang mengikuti irama zaman. Pada masa itu, Desa Adolang bagaikan payung raksasa yang menaungi tujuh dusun: Mongeare, Siiyang, Pesapoang, serta Rawang, Ratte, Timbogading, dan Galung. Waktu terus berputar, dan seperti anak-anak yang tumbuh dewasa lalu memisahkan diri dari rumah induk, Desa Adolang pun beranak-pinak. Lahirlah Desa Adolang Dhua yang merangkul Mongeare dan  Siiyang. Sementara itu, Desa Benteng mengayomi R...

Kisah Dua Kecambah

Di sebuah hamparan tanah subur, dua kecambah kecil muncul dari dalam tanah. Mereka hidup berdampingan, disinari matahari yang sama, dan disirami hujan yang sama. Namun, keduanya memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang bagaimana mereka ingin tumbuh. Suatu pagi, Kecambah Pertama memandang sekeliling dengan ragu. "Aku tidak mau tumbuh terlalu tinggi atau terlalu lebat," bisiknya pada Kecambah Kedua. "Kalau aku terlalu tinggi, angin bisa menerbangkanku. Dan aku tidak mau akarku panjang-panjang, tanah itu gelap, lembab, dan penuh cacing! Aku tidak suka!" Kecambah Kedua menggeleng pelan. "Tapi justru itulah tantangan kita," jawabnya dengan tekad. "Aku ingin tumbuh setinggi mungkin, melihat dunia yang lebih luas. Dan akarku akan kutanam sedalam-dalamnya agar aku kuat menghadapi badai. Tanah mungkin gelap, tapi di sanalah kita menemukan kekuatan." Kecambah Pertama hanya menghela napas. "Terlalu berisiko. Aku lebih baik tetap seperti ini....

Lelaki Pembawa Nira

Kampung Pesapoang, liburan sekolah bukan masa untuk bersantai. Anak-anak di sini sudah paham bahwa waktu luang adalah peluang untuk ma'ande gaji, mencari tambahan uang saku. Ada yang ikut memetik kopi milik petani di wilayah pegunungan, ada yang jadi kenek dadakan di proyek rabat jalan, ada pula yang mengumpulkan batu di sungai dan dijual kepada kontraktor proyek jalan. Bagi kami, liburan adalah kerja, bukan rehat. Pada suatu liburan sekolah, saya dan ibu bersiap pergi ke Paminggalan, sebuah daerah kebun kopi yang letaknya jauh di seberang bukit dan lembah. Hari itu langit biru bersih. Kami berangkat pagi, membawa bekal secukupnya. Kami ditemani kerabat bernama Iyasa. Orangnya baik, tapi pikirannya kadang berkelana sendiri. Dalam bahasa kami biasa disebut Tosele-sele atau Toseno-seno. Kami melintasi lembah yang dalam, menyeberang sungai kecil, mendaki punggung bukit yang panjang dan menembus hutan yang terasa lebih rapat dari biasanya. Kami melangkah dengan keyakinan bahwa jalur se...