Skip to main content

Cerpen: Kisah Cinta Bojes dan Lia: Perpisahan memang Menyakitkan

Matahari sore itu mulai tenggelam, meninggalkan jejak-jejak jingga di langit. Angin laut bertiup pelan, membawa aroma asin dan dinginnya harapan yang belum pasti. Di Pelabuhan Majene, kerumunan orang berdesakan, sibuk dengan urusan masing-masing. Namun, di antara hiruk-pikuk itu, ada dua sosok yang tampak begitu kontras, Bojes dan Lia.
Bojes, pemuda tegap dengan hati yang penuh dilema, berdiri di dekat tangga kapal. Ia memandang ke arah Lia, gadis yang selama ini menjadi alasan mengapa ia tetap bertahan dalam hidup. Mata Lia basah oleh air mata, tubuhnya gemetar, dan wajahnya penuh dengan rasa tak rela. Mereka hanya saling menatap, tanpa kata, namun ribuan emosi mengalir di antara mereka.
Klakson kapal berbunyi panjang, tanda bahwa waktu keberangkatan semakin dekat. Bojes mencoba melangkah maju, namun kakinya terasa seperti tertambat di dermaga. Hatinya berontak. Ia ingin pergi demi masa depan yang lebih baik, tapi di saat yang sama, ia tidak sanggup meninggalkan Lia, gadis yang telah menjadi separuh jiwanya.
"Lia..." suara Bojes terdengar lirih, nyaris hilang ditelan angin laut. "Aku harus pergi... ini demi kita."
Lia hanya bisa menggelengkan kepala, air matanya semakin deras mengalir. Ia merasa dadanya sesak, seolah udara di sekitarnya tiba-tiba hilang. "Tidak, Bojes... aku tidak bisa melepasmu," katanya dengan suara serak, nyaris putus asa. "Aku tidak bisa hidup tanpamu.
Bojes terdiam. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah keputusan yang tepat. Tapi ketika ia melihat Lia yang mulai lunglai, tubuhnya gemetar hebat, dan tangannya terulur seolah memohon agar ia tetap tinggal, hatinya runtuh.
Kapal mulai bergerak, lambat tapi pasti, meninggalkan dermaga. Bojes sudah berada di dek kapal, namun pandangannya tak lepas dari Lia. Gadis itu tiba-tiba berteriak keras, suaranya membelah kesunyian pelabuhan.
"BOJES! JANGAN PERGI!" teriak Lia, suaranya penuh rasa sakit dan putus asa. Tubuhnya mulai meronta, berusaha mendekati kapal meskipun ia tahu itu mustahil. "AKU MOHON... JANGAN TINGGALKAN AKU!"
Bojes merasa jantungnya seperti diremas. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya. Perlahan, ia berbalik dan berlari menuju tangga kapal. Matanya hanya fokus pada satu hal: Lia.
"BERHENTI! KAPAL HARUS BERHENTI!" teriak Bojes kepada awak kapal, namun suaranya tenggelam dalam deru mesin. Ia tidak peduli. Dengan langkah cepat, ia turun kembali ke dermaga, meninggalkan barang-barangnya di atas kapal
Melihat Bojes berlari kembali ke arahnya, Lia terhenti. Matanya membelalak tak percaya. "Bojes...?" gumamnya, suaranya bergetar.
Bojes langsung memeluk Lia erat-erat, seolah takut kehilangannya. "Maafkan aku, Lia... aku tidak bisa pergi. Aku tidak bisa meninggalkanmu," ucap Bojes dengan suara parau, air mata mengalir deras di pipinya. "Aku mencintaimu lebih dari apapun. Tanpamu, aku bukan siapa-siapa."
Lia balas memeluk Bojes, tubuhnya gemetar hebat. "Aku juga mencintaimu, Bojes... aku tidak bisa hidup tanpamu," katanya di antara isak tangis.
Orang-orang di sekitar pelabuhan mulai menyadari apa yang terjadi. Beberapa dari mereka tersenyum haru, sementara yang lain mengusap air mata mereka. Ada yang merekam momen dramatis itu secara diam-diam, dan video tersebut kemudian viral di media sosial.
Beberapa hari setelah kejadian itu, kisah cinta Bojes dan Lia menjadi pembicaraan hangat di seluruh penjuru negeri. Video perpisahan yang berubah menjadi reuni itu membuat banyak orang terharu. Netizen ramai-ramai memberikan dukungan, bahkan ada yang berkomentar, "Cinta sejati tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh jarak atau waktu."
Bojes akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan di sekitar Majene. Meski penghasilannya tidak sebesar yang ia harapkan di Kalimantan, ia merasa lebih bahagia karena bisa bersama Lia. Baginya, kebahagiaan Lia adalah segalanya. 
Dan bagi Lia, kehadiran Bojes adalah jawaban atas semua doa-doanya. Mereka belajar bahwa kadang-kadang, cinta memang membutuhkan pengorbanan. Namun, pengorbanan terbesar adalah ketika seseorang memilih untuk tetap tinggal demi orang yang dicintainya.
Di bawah pohon kenanga besar di tepi pantai, Bojes dan Lia duduk berdampingan, menatap matahari terbenam. Tangan mereka saling menggenggam, erat dan penuh keyakinan.
"Aku janji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi," bisik Bojes.
Lia tersenyum, matanya berbinar. "Aku juga janji, aku akan selalu ada di sisimu."
Mereka berdua tahu, perjalanan hidup mereka masih panjang. Namun, selama mereka bersama, segala rintangan akan terasa lebih ringan. Karena cinta mereka adalah komitmen yang tak akan pernah pudar, bahkan di tengah badai sekalipun.
Tamat.

Comments

Popular posts from this blog

Tak Jadi Santap Siang Bareng Presiden

Meraih emas kategori the best speakers (pembicara terbaik) pada ajang National School Debating Championship (NSDC) di Palu, Sulawesi Tengah pada 10–16 Agustus, bisa mengobati kekecewaan Agung Aulia Hapsah. Pasalnya, pelajar SMA 1 Tanah Grogot, Kabupaten Paser itu, harus merelakan kesempatan emas bertemu Presiden Joko Widodo. Pada saat bersamaan, Agung yang cukup terkenal sebagai salah satu YouTuber tersebut mendapat undangan makan siang bersama Presiden di Istana Negara bersama YouTuber nasional lainnya, seperti Arief Muhammad, Cheryl Raissa, dan Natasha Farani. Ali Hapsah, ayah Agung membenarkan hal itu. Pasalnya, Agung harus terbang ke Palu untuk mewakili Kaltim.  “Agung adalah salah seorang yang diundang Pak Presiden. Tapi tak bisa hadir, karena harus mengikuti lomba debat bahasa Inggris di Palu,” kata Ali Hapsah. Meski demikian, pria ramah itu mengaku bangga karena karya-karya Agung khususnya di bidang sinematografi, mendapat perhatian dari presiden. “Ap...

The Implementation of Decentralization Policy in Indonesia: Benefits and Challenges

INTRODUCTION Since President Suharto resigned in May 1998 caused by the people power led by students, there have been remarkable changes toward democracy in Indonesia. The strong indication can be seen from the success of Indonesia in carrying out general election, where according to some observers both domestic and foreign observers, it was the most democratic general election which had ever been carried out in Indonesia; freedom of press which was formerly tightly regulated and monopolized by the central government; a dramatic increase up to 181 in the number of political party within ten months, from May 1998 to February 1999, (Fatah 2000) ; amendment of 1945 Constitution which was taboo to be done during New Order Era, then to be conducted thorough plenary session of People Assembly in 1999. In short, nearly all sectors of national life experienced dramatic democratization process. This process is nation widely called for reformasi.      One of the most important...

Peran Lembaga Pelatihan/Pendidikan Vokasi Dalam Peningkatan Sumber Daya Manusia Di Era Digital

Saat ini kita berada dalam dunia yang telah berubah dari segala sisi. Apa yang dulunya hanya sebuah hayalan fiksi ilmu pengetahuan (science fiction) , sekarang menjadi ilmu pengetahuan yang nyata (science fact) . Perkembangan teknologi informatika dan komunikasi serta penemuan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang mengantarkan pada era digitisasi dan otomasi menjadi pemicu terjadinya perubahan yang sangat cepat dan eksponensial. Dalam pusaran angin tornado perubahan dunia yang begitu dahsyat, kita dihadapkan pada dua pilihan: men- drive perubahan atau ter- drive oleh perubahan. Dalam dunia saat ini yang semuanya menuntut respon cepat dan akurat, hanya menyisakan satu ruang bagi individu, kelompok, industri bahkan sebuah bangsa untuk bisa survive , yaitu inovasi. Menteri Ketenagakerjaan sering menyebut, kalau dulu para pejuang kita berteriak “Merdeka atau mati” maka sekarang berganti menjadi “Inovatif atau mati”. Terjangan perubahan di era revolusi industri 4.0 yang j...